Followers

Sunday, March 1, 2009

www.sinarharapan.co.id dan Pasca-Kolonialisme

 Pasca-Kolonialisme: Tegangan dan ............

Sihar Ramses Simatupang

Pengemban visi setelah kebangkitan sebuah bangsa terbebas dari tekanan kolonialisme, bisa jadi mulai memudar atau masih bertahan, di dalam kenangan generasi terbaru para intelektualnya. Yang pasti, segala tegangan antara yang menguasai dan dikuasai, yang pernah dijajah dan pernah menjajah, yang dominan dan tak dominan, kembali menjadi aktual.
Seperti kenangan lenturnya teks Gabriella Garcia Marquez dalam imaji dan saputan realisme magis, yang menjadi suara di tengah deru napas dan nyanyian kaumnya untuk bersikap “inferior yang agung” di tengah kepitan penjajahan panjang dan kebanggaan penduduknya akan kenangan sejarah Simon Bolivar, juga rasta Bob Marley, hingga coretan kaligrafi Diego Rivera di pojok-pojok kota. 
Tapi, bukan lagi pengharapan akan “juru selamat” individu pengarang yang estetis, gemilang dan pembawa misi, namun kecerdasan yang dibina atas tegangan global dan reaksi lokal yang terus terjaga. 
Pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat bisa menghasilkan sesuatu atas dialog, komunikasi yang terus berjalan antara individu-individu di dalamnya, terhadap sejarah yang dinamis dan bergerak? Gerak yang tak hanya membina tegangan antara teks, pengarang dan pembaca karya sastra, tetapi juga antara individu dan masyarakat. Seperti analogi sebuah jaringan, yang dimahfumi, bahwa teks adalah resonator dari masyarakat.
Di tengah bayangan kekhawatiran pada sosok Pramoedya Ananta Toer yang genial di dalam sejarah sekaligus bersahaja di dalam bahasa yang realis, sosoknya bisa jadi bukan sebuah sintesis atas masyarakat dan bangsa Indonesia pasca-penjajahan, namun bisa terdengar hingga ke seantero internasional lewat corong karyanya atas peradaban sekaligus kegusaran sebuah bangsa. Seperti tegangan atas tesis-antitesis yang terus terjadi di antara masyarakat dan sejarahnya, juga reaksi dari kenangan penjajahan dan serangkaian keyakinan tentang kebangkitan berlokalitas, kewajaran bila prasangka-prasangka itu mulai menyodorkan nama dalam bayangan manusia-manusia Indonesia terhadap kehadiran Sitor Situmorang, Rendra, Ahmad Tohari, Iwan Simatupang, Budi Dharma hingga Kuntowijoyo dan YB Mangunwijaya. Nama yang tentu saja, tak lepas dari substansi dan tematik karya mereka yang lokal atau global; hingga ambigu.
Seperti tegangan antara ideologi mainstream di dalam sejarah yang belakangan bisa bergeser pada “kemesraan yang semu dan bisa berbahaya”, napas generasi pengarang di Indonesia, jelas akan berbeda dengan generasi pendahulunya. Antara realitas dan “realitas semu” produk dari citra dan distorsi, juga keyakinan bahwa Indonesia “ada” di antara negara-negara lain yang juga “ada”, hubungan antara teks, pengarang dan bangsa, kembali menciptakan tegangan. 
Berpilin-pilin dengan kehadiran sejarah, bangsa-bangsa lain telah membuat dialog dengan fakta sejarah bangsanya; antara generasi tua para samurai dan restorasi Meiji penanda kebangkitan Jepang; antara tsar, bolsevik-proletar hingga perpecahan negara Rusia dan liberalisme meretakkan sendi bangsa ini, hingga laboratorium besar China-Hongkong dalam peradaban yang bergeser cepat. 
Di Indonesia, sekalipun manusianya disodorkan fakta lama tentang lokalitas dan fakta baru bahwa dia adalah bagian dari global; kenangan wibawa Majapahit dan Sriwijaya dijadikan kebanggaan sekaligus dicurigai, inferioritas tak hilang usai penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa – sich! Belanda – lalu ideologi nasionalis-agama dan sosialis yang membayang, juga rezim otoritarian yang barusan usai, ditambah pasar bebas yang terjadi begitu cepat dan tiap individu di Indonesia terhipnotis oleh wujud “sebuah rumah yang terbuka dan menerima banyak tamu”. 
Di dalam kondisi sekarang, ada karya-karya dari generasi yang muncul di tengah keyakinan pada gelora pemikiran “pusat dan pinggiran yang sebaiknya usai”, “negara dunia ketiga, kedua hingga pertama” yang katanya bisa terselesaikan lewat kebersamaan atau jurus Jalan Ketiga (Anthony Giddens). Namun, seperti filosof yang dekonstruktif seperti Paul-Michel Foucault, Jacques Derrida, hingga Lyotard kegamangan beberapa generasi lain terhadap “beberapa nubuat para pemikir dan perancang global” seperti John Naisbit dan Francis Fukuyama –nama yang disanjung sekaligus dicurigai.
Bukankah generasi dengan pandangan pasca-struktur yang “banyak varian dan berusaha luput dari totalitarian” harus mengakui pandangan generasi yang masih membina warisan dari peradaban pemikiran “terstruktur”? Seolah di antara keduanya berusaha menghasilkan tesis lain atas tesis-tesis yang pernah berceceran dan berlompatan. 
Di sisi lain, dinamika yang berhenti pada pandangan pasca-struktur, tak ingin terpinggirkan sekaligus tak ingin terpusat, dalam eksistensi sekaligus status teks dan keberadaan komunal para senimannya, malah mengarah ke pusat pemikiran!
Menghindar dari tegangan teks-pengarang-masyarakat, tetap merupakan kekeliruan. Karena penolakan atas “teks-teks yang otonom” tak hanya bisa dilakukan pada karya sastra melainkan juga pada pengarang yang tertutup. Pengarang yang asosial.
Benar bahwa teks karya sastra merupakan sebuah dunia yang penuh tegangan dengan pengarang; teks tak lagi sekadar penciptaan bahasa dari pengarang, tapi juga berkehendak karena merupakan wilayah imaji yang memberikan informasi baru buat pengarangnya; seperti permainan bahasa – banyak benda di dalam kotak Pandora.
Tapi jangan dilupakan bahwa pengarang adalah satu di antara pengarang-pengarang lainnya, individu merupakan bagian dari individu-individu yang lain; ada dialog, perenungan, penyelaman sekaligus pembacaan atas keadilan sosial pun layak di lakukan. Adalah aneh bila memilih sikap asosial, yang lepas dari kondisi penjajahan beras impor yang masuk ke Indonesia, soal harga cabe melonjak tinggi, mesin pemecah padi yang minim di wilayah pedesaan, kebakaran hutan, melonjaknya harga minyak dan bensin.
Karena bila hal itu berhenti, maka yang terjadi adalah “teks dan pengarang yang seolah punya kehendak”, namun sesungguhnya “mereka” berhenti terhadap serangkaian “mereka” yang lain: sejarah, individu-individu, suku-suku, pulau-pulau hingga negara-negara. Indonesia bagian dari dunia dan desa saya bagian dari Indonesia, dunia adalah desa lain di luar desa saya. Mirip pameo: Jangan cuma tanyakan apa yang dilakukan karya sastra terhadapmu, tapi tanyakan juga bagaimana engkau dalam berbangsa, berdesa dan berdunia! n

Pasca-kolonialisme oleh Fajar dalam Kompas

Petikan tulisan Fajar dalam Kompas 2007

Dari kritik yang dikemukakan oleh para sineas muda ini, menjadi semakin menarik untuk melihat bagaimana sebenarnya representasi pascakolonial masih ada dalam slide-slide film Indonesia sebagai negara bekas jajahan.

Kajian mengenai pascakolonialisme (postcolonialism) sendiri telah banyak dilakukan oleh para peneliti yang berasal dari Dunia Timur, baik mereka yang telah berimigrasi ke negara-negara Barat, yang notabene merupakan eks kolonialis, seperti halnya Salman Rushdie yang bermigrasi dari India ke Inggris dan Edward W Said yang bermigrasi dari Palestina ke Amerika Serikat maupun yang tetap berdiam di negara-negara di belahan Dunia Timur, seperti Pramoedya Ananta Toer yang tetap tinggal di Indonesia.

Salman Rushdie pernah mengemukakan gagasannya bahwa telah terjadi bentrokan kultural dalam masyarakat India, sebuah dilema subyek kolonial yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia ketiga lainnya. Bentrokan budaya yang dikatakan oleh Salman Rushdie di atas pada kenyataannya banyak menimpa negara-negara lainnya, termasuk juga Indonesia. Kritik

Pada intinya, kritik para pemikir pascakolonialisme adalah bahwa setelah para kolonialis angkat kaki secara administratif dan politis, bukan berarti pengaruh mereka akan ikut hilang juga, tetapi pada kenyataannya secara kultural para eks kolonialis ini masih memiliki pengaruh. Premis yang mendasari pemikiran pascakolonial dapat dilacak dari teori ketergantungan (dependency theory) yang banyak dilontarkan oleh para pemikir dari Amerika Latin. Menurut Ali Mohammadi proses dalam pascakolonialisme yang seperti ini disebut sebagai cultural imperialism atau cultural dependency (Mohammadi dalam Downing [ed], 1990 : 270).

Jika kita melacak lebih jauh, tesis para penganut teori ketergantungan banyak berutang pada Karl Marx dan Frederick Engels, termasuk dalam kaitannya dengan ekonomi politik. Dalam pandangan Marx dan Engels, ide-ide dari kelas berkuasa akan selalu menjadi ide- ide yang berkuasa, maksudnya akan selalu menjadi wacana dominan dalam satu masyarakat. Misalnya, kelas yang menguasai kekuatan material (material force) dalam masyarakat, pada saat yang bersamaan akan menguasai kekuatan intelektual (intellectual force).

Menurut pandangan Marx dan Engels di atas, kelas yang menguasai alat-alat produksi secara bersamaan juga akan memiliki kuasa atas produksi mental. Dalam konsepsi Marxisme klasik, ada dua hal dalam yang memengaruhi perkembangan masyarakat, yaitu yang pertama adalah basis (base) dan yang kedua adalah superstruktur. Basis yang dimasudkan oleh Marx adalah corak produksi dari suatu masyarakat, sedangkan superstruktur dapat berbentuk ideologi, politik, budaya, dan sebagainya.

Fajar Junaedi Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Wednesday, February 18, 2009

Ibrahim Hussein

Perginya Seorang Pengagum Astronault

Dr.Zulkifli Mohamad, ASWARA

Pada jam 12.30 malam semalam, saya mendapat pesanan ringkas(sms) di telefon tangan(hp) saya yang menyatakan yang Ibrahim Hussein, seniman seni visual tersohor itu sedang sakit tenat di Pantai Medical Centre di Bukit Pantai Kuala Lumpur dan semuga beliau selamat sembuh. Pada jam 6.30 pagi, Khamis 19 Februari 2009, satu lagi sms menyatakan Dato’ Ibrahim Hussein telah selamat kembali ke rahmatullah. Al Fatihah untuknya, semuga rohnya ditempatkan bersama-sama orang-orang yang mulia. Sesampai di ofis, saya meletakkan berita “Al Fatihah Untuk Ibrahim Hussein yang melukis “My Father and the Astronault” dan menyedari saudara Fauzin Mustafa sudah meletakkan Al Fatihah….. Sedang berfacebook bersama kawan-kawan yang mengenali allahyarham Ibrahim Hussein yang mesra dipanggil Ib serta kawan-kawan yang mengagumi beliau, sekadar mengenang kembali karya-karya beliau. Seorang rakan di surat khabar sempat menyatakan yang dua editor, Sastera dan Berita, berebut untuk menyiarkan berita kematian di ruangan masing-masing. Fikir saya, eloklah di ruangan berita hanya berita kecil tentang kematian dan di ruangan sastera cerita tentang kisah hidup beliau.

Pada saya, apabila menyebut nama beliau, saya teringatkan lukisan “My Father and the Astronault” yang pernah dipamerkan di Balai Seni Lukis Negara di Hotel Majestik pada tahun 1986. Waktu itu saya sedang menjadi pemilik gerai kecil di Central Market berdekatan AP Galeri milik Allahyarham Rahime Harun dan Puan Zarina Ariffin. Lukisan itu membuatkan saya berfikir tentang seni, tentang bangsa kita dan ke mana kita selepas ini. Teman saya memberitahu yang dia ada bergambar bersama Ibrahim Hussein dan lukisannya “My Father and the Astronault” semasa membuat liputan akhbar. Kita saling bercerita tentang beliau, “pada saya lukisan tersebut banyak membuka mata saya tentang sebuah karya seni yang seharusnya berkata-kata kepada kita, ke manakah Melayu selepas ini?”. Sesungguhnya beliau sudah memberi jasa pada kita dan pada bangsanya dengan hanya memberikan sebuah pertayaan yang tersirat.

Ibrahim Hussein yang dilahirkan pada 13 Mac 1936 di Sungai Limau, Yan, Kedah. menerima pendidikan awal di Sekolah Melayu di Yan dan kemudiannya menyambung pelajarannya di Nanyang Academy of Art di Singapura. Beliau menerima biasiswa menyambung pelajaran di England di Byam Shaw School of Drawing and Printing, London dari tahun 1959 hingga tahun 1963, seterusnya ke Royal Academy School, London selama 3 tahun. Pada tahun 1973 beliau memulakan kerjayanya sebagai residen artis di Universiti Malaya. Allahyarham juga mempunyai dua saudara yang juga berada di dalam bidang seni, Dato' Abdullah Hussein dan Tan Sri Ismail Hussien dalam bidang penulisan.

Antara pameran-pamerannya termasuklah di John Whibley Gallery, London (1963), Gallerie Internationale, New York (1965), Galeri Seni Takashima, Tokyo (1989), Galeri Seni Takashima, Osaka (1989), Museo National de Bellas Artes, Santiago, Chile (1991), Forum Ekonomi Sedunia di Switzerland (1994), Solidaridad Galleries 1969, 1977 Dhait Abdullah Al Salam Gallery Kuwait, Daruma Art Centre Copenhagen 1983, Galerie Bortier in Brussels, Galerie Kaleidescoop in Ghent.

Allahyarham Dato' Ibrahim Hussein telah dianugerahkan 'Crystal Award World Economic Forum', Switzerland(1997), Darjah Kebesaran Dato' Setia Diraja Kedah (D.S.D.K) (1996), 'Order of Bernado O' Hinggings, Chile' (1995), Darjah Dato' Paduka Mahkota Perak (1991) dan 'Order of Andres Bello Venezuela' (1993), Fulbright Scholarship, XVIII Prix International D'Art Contemporain de Monte Carlo 1984, Japan Foundation Cultural Award 1988. Satu lagi penghormatan terhadap pencapaiannya di peringkat antarabangsa adalah pengabadian namanya pada galeri dan pusat seni di Langkawi Muzium dan Yayasan Kebudayaan Ibrahim Hussein, yang dianugerahkan oleh Perdana Menteri Malaysia Ke-empat, Tun Dr.Mahathir Mohamad. Antara usaha yang telah dijalankan oleh yayasan ini adalah menganjurkan Festival Seni Antarabangsa Langkawi.[1]

 

Sebagai seorang anak Kedah-Langkawi yang prominen di dalam dunia seni lukis, beliau mengimpikan Ibrahim Hussein Museum and Cultural Foundation sebagai sebuah pusat seni antarabangsa yang tersohor di dunia, menjadi tempat berkumpulnya seniman-seniman luar Negara yang datang bergaul dengan seniman tempatan, dan untuk seniman kita pula menjadi lebih terbuka dan menimba ilmu dari seniman dunia yang telah berjaya. Seseungguhnya usaha ini amatlah diperlukan di Negara ini, dan cita-cita beliau amatlah dihargai, tapi apakan daya, ajal maut di tangan Allah. Seterusnya kita bertanya “apakah akan ada sebuah pusat seni yang sebegitu rupa selepas pemergiannya”. Semasa penubuhannya, Dato’ pernah menyatakan betapa susahnya beliau mencari sokongan untuk penubuhan sebuah pusat seni sedemikian rupa serta penerusan usaha-usaha beliau[2].

 

Sememangnya beliau seorang seniman modenis yang mempunyai cita-cita yang tinggi, bukan hanya untuk dirinya tetapi untuk anak bangsanya. Mungkin beliau lebih dikenali di luar Negara, tetapi namanya tetap harum di mata anak bangsa. Gaya lukisannya yang bersifat abstrak sekaligus futuristik mempunyai jalur-jalur halus yang begitu terpadu dengan ekspresi warna-warnanya serta emosinya. Banyak karya-karyanya dimiliki organisasi korporat dan kerajaan di dalam dan luar negeri.

 

Di dalam beberapa temuduga yang diberikan dengan pihak akbar, Ibrahim Hussein menyebut yang karyanya “May 13, 1969” lah yang telah memberikan tumpuan kepadanya. Mungkin ramai yang beranggapan bahawa beliau seorang yang terpengaruh dengan politik, sehingga beliau hampir diberkas dan dipenjarakan kerana sentimen politiknya di dalam “May 13, 1969”[3]. Beliau dipanggil oleh Allahyarham Tun Abdul Razak untuk menjelaskan pendirian dan pemikirannya di dalam “May 13, 1969”. Beliau dituduh merendahkan martabat Bendera Malaysia. Tetapi pada hakikatnya, beliau telah menjumpai bendera tersebut yang terbiar di atas tanah, kemudiannya menjadikan bendera itu sebagai kanvas untuk luahan karya seninya. Karya tersebut akhirnya dibenarkan untuk pameran. Jelasnya “orang sering terkejut dengan apa yang jarang mereka lalui, tetapi jika anda benar-benar tulus dengan apa yang anda lakukan, anda akan mengatasi segalanya kerana anda seorang yang berani dengan keyakinan diri anda”.

 

Apabila ditanya tentang bentuk karyanya, beliau menegaskan yang beliau sendiri menemui bentuk yang dipanggil “printage” melalui sebuah proses pencariannya, iaitu gabungan dua proses, “printing” dan “collage”. Idea tersebut tercetus sewaktu beliau berada di New York, di mana dia dikelilingi oleh papan-papan iklan (billboards) yang mempunyai warna-warna yang terang. Tetapi apabila beliau berhijrah ke Langkawi, beliau banyak dipengaruhi oleh alam sekitar disekelilingnya seperti hutan hujan tropical, batu batan dan gunung ganang. Ibrahim Hussein juga menyifatkan karya-karya lukisannya sebagai “spontaneous” dan mengikut keadaan setempat.[4]

 

Sesungguhnya, pemergian Ibrahim Hussein ditangisi seluruh anak bangsa yang mencintai seni dan budaya. Al Fatihah. Jenazah Allahyarham akan dikebumikan di Pusara Bukit Kiara selepas zohor, Khamis, 19 Februari 2009.

 



[1] www.mykedah2.com

[2] www.best-of-langkawi.com

[3] www.neosentuhan.com

[4] www.kakiseni.com

Sunday, February 15, 2009

Memetik Tulisan Bernas Dari http://bahazain.blogspot.com

Sunday, 8 February 2009

DARIPADA' RAJA' KEPADA 'KERAJAAN'

PADA SAAT MENULIS paparan ini istana Perak menjadi pusat perbahasan di tengah-tengah dua kerajaan yang masing -masing mengaku berkuasa secara sah. Rakyat biasa yang bukan ahli dalam bidang undang-undang, malahan peguam profesional pun tdak semua yang boleh mengatakan dengan tepat siapakah antara kerajaan negeri ( PKR dan BN ) yang benar-benar absah (legitimate) atau apakah keputusan istana yang menitahkan Menteri Besar PKR mengundurkan diri sebagai betul atau salah?



Pertikaian dan kemelut politik serta undang-undang ini akan mewujudkan tindakan-tindakan perundangan dan pembicaraan di depan hakim dalam waktu terdekat . Ini akan menjadi peristiwa yang memberi pengalaman serta pengetahuan perundangan yang rumit . Ia akan memperkaya pemikiran perundangan di negara ini. Dalam waktu yang sama ia juga menandakan bahawa rakyat semakin yakin terhadap sistem kehakiman untuk menjadi tempat rujukan terakhir bagi sebarang pertelingkahan . Jadi serahkanlah kepada sistem kehakiman untuk memberi kata putus dalam pertikaian demokrasi yang telah menemui jalan buntu.




Apa yang sangat mendukacitakan ialah banyak pihak menggunakan kesempatan ini
( tokoh politik, individu, pemimpin NGO, media ) untuk menyeret istana , dalam nada menyokong atau menentang . Ada yang mengkritik istana kerana membuat keputusan yang tidak tepat berasaskan hak-hak dan kuasanya. Ada yang mempertahankan istana dan menuduh penentangnya sebagai derhaka. Tidak semua yang menyokong atau menentang istana ini jujur atau ikhlas kerana ramai yang bermotifkan politik kepartian, dan tidak kurang pula yang bermotifkan perniagaan, kedududukan, dan peluang-peluang peribadi pada masa depan dengan menampakkan dirinya sebagai penyokong atau penentang sewaktu krisis .


Walau apa pun imej istana Perak itu sekarang terlempar dalam kontroversi yang semakin dirumitkan oleh media yang tidak peduli apakah kesan dan akibatnya dalam persepsi, hati dan perasaan rakyat terhadap istana dan Raja yang berkuasa. Rasanya inilah pertama kali istana atau institusi di raja dihadapkan dengan tunjuk perasaan di jalan raya oleh rakyat Melayu sendiri; dan diambil tindakan undang-undang atas isu politik oleh seorang pemimpin bukan Melayu. Apakah tanda-tanda sosial yang dapat kita baca daripadanya? Apakah sedang berlaku perubahan besar nilai-nilai sosial budaya di kalangan penduduk sekarang? Apakah fahaman demokerasi dan hak-hak sivil sedang mengacu pada kebebasan yang boleh menggoncang institusi sosial yang ada?



Istana dan raja itu adalah tradisi politik tanah air yang boleh ditelusuri ratusan tahun ke belakang dalam sejarah negara kita. Istana dan Sultan itu menjadi lambang kedaulatan kekuasaan politik Melayu pada zaman lampau; dan pada zaman ini menjadi pemelihara tradisi keMelayuan, adat istiadat, budi bahasa dan sopan santun serta keharmonian bersama bagi seluruh rakyat Melayu, Cina , India dan lain-lainnya . Dari istilah "raja" itulah terbitnya istilah "kerajaan" yang dalam sistem demokrasi berparlimen, dan raja berperlembagaan, istana, Agong dan Sultan itu berada di atas politik kepartian. Raja dan istananya menjadi lambang keadilan bagi seluruh rakyat, dan lambang kedaulatan negara demokratik yang merdeka .



Justeru itu peranannya dalam menstabilkan kehidupan rakyat jelata melalui tindakannya yang adil dan berlandaskan Perlembagaan dan undang-undang sangatlah penting. Sultan di takhta tidak tertakluk pada pilihanraya lima tahun sekali seperti Perdana Menteri dan Menteri-menterinya. Sultan berada di tempat yang istemewa bukan sahaja dalam erti yang rasmi, tetapi sangat dekat dengan hati masyarakat Melayu sehingga apa jua penentangan terhadapnya ( lebih-lebih lagi daripada rakyat bukan Melayu) berkemungkinan mencetuskan konflik antara kumpulan atau kaum.


Pergolakan politik di Perak sekarang memberi banyak iktibar kepada kita, terutama masyarakat Melayu sendiri, supaya jangan memperalatkan nama istana; dan istana pula harus berwaspada memelihara martabatnya sebagai sumber cahaya keadilan bagi semua rakyat jelata. Krisis di Perak itu juga diharap akan lebih membijakjsanakan agar pada masa depan tokoh-tokoh politik tidak memandang mudah terhadap kekuasaan dan pengaruh istana; dan istana pula tidak lalai akan kemungkinan kedaulatannya disanggah oleh rakyat.



Mari kita semua kembali kepada akal sihat , dan tidak lebih memudaratkan keadaan dengan tindakan serta kenyataan-kenyataan yang memancing publisiti di media. Media juga sepatutnya jangan memancing pembaca dan penonton dengan sengaja mencari-cari atau mengada-adakan juru ulas, penganalisis dan sebagainya. Masyarakat sekarang sudah ramai yang berfikiran canggih dan mampu membezakan propaganda daripada laporan yang objektif; pandangan yang berat sebelah dengan pandangan yang saksama; dan tokoh yang autentik dengan tokoh yang bergelar. 

Keghairahan media untuk memihak sering menjadikan pemberitaannya bersifat overkilldan hasilnya counter-productive . Tidak hairanlah kalau ramai orang berasa bosan dan muak sehingga lebih percaya kepada kredibiliti blog daripada media perdana. Jadi serahkanlah kepada mahkamah , dan yakinlah Allah akan memberi kemenangan kepada yang benar( cepat atau lambat).

Wednesday, January 28, 2009

YEOH JIN LENG WORKS IN NAPLES EXHIBITION


Yeoh Jin Leng - Represented by Il Ramo d'Oro
( Malaysia, 1929 - present )

Page 1
More artwork: 1 2 >>next
 

The Moving Body – Odissi Dance

The Moving Body – Odissi Dance 1

Gopis 6

Apasara

Bird of fire

Gopi 2

Icon

Entry
 
Artist: Yeoh Jin Leng ( Malaysia, 1929 - present ) -More artwork: 1 2 >>next
 
Main Category: Painting
Genres: Contemporary Asian Art
 
Biography: Yeoh Jin Leng has long received worlwide recognition as artist and sculptor. Born in and schooled in Ipoh, Malaysia, he completed his education (which included teaching qualifications) at The Chelsea School of Art and Courtauld Institute. HIs work has ben exhibited all over the world and he has received awards and prizes in many countries, including Malaysia, the UK, USA, France, Germany and Japan. He has also represented Malaysia as an artist and cultural ambassador around the world and at UNESCO. His current artistic interest are on themes related to the cosmological and aesthetic foundations of art of an Asian origin. 
Jin Leng continues to travel the world, including visits to San Giovanni d'Asso to see Tina Tung, his daughter, and his grandchildren. It was during a stay in winter 2006/7 that he painted the paintings of music at the pool at Podere Carvagine, which has been adopted for the Music Tuscany Festival and is printed on the front cover of the programme. 
EDUCATION 

1936/37 Phui Nam Chinese School 
1938-40 Toft English Primary School 
1940-41,45-49 Anderson School, Ipoh 
1950-51 Normal Teacher-Training 
1952-53 Malayan Teachers College, Kirkby, Liverpool 
1957-62 Chelsea School of Art, London - First Malaysian Federal Scholar for Art 
1962/63 Institute of Education, University of London 
1958 Cautauld Institute Course on Renaissance Art 

POSITIONS HELD 

1950 -51 Probationary-Teacher, Anderson School, Ipoh 
1953 -57 Art Teacher, Sultan Sulaiman Secondary School, Kuala Terengganu 
1963 Act. Education Officer/Acting Headmaster, Sultan Sulaiman 
Secondary School, Kuala Terengganu 
1963 -1968 Lecturer, Art Education, Specialist Teachers’ Training Institute, Cheras, KL 
1969 -83 Senior Lecturer/Head of Art Education Department, STTI, 
Cheras, KL. 
1975 -1983 Chief Examiner, National Art Examinations SRP, SPM, Ministry of Education 
1969 -83 Chairman, Teacher Education Art Examinations Panel for the 27 Teacher-Training Institutions, 
1974 -1983 Chairman, Curricula Development Panel for KBSR, KBS, KBSM and Teacher Education Art Syllabi 
1974 -83 President, Society for Art Education 
1975 -82 Organizer of the National and International Opening of 
Musabaqah(Quran Reading Competition) 
1982 - 84 Founder-Member, Vice-President, Malaysian Artists’ Association 
1983 - 84 Design-Coordinator, Selangor Pewter, KL 
1984 - 94 Dean of Studies, Malaysian Institute of Art, KL 
1985 Member, Financial Council of Malaysian Nature Society 
1989 -91,92-97 Member of the Board of Trustees, 
National Art Gallery 
1989 - 90 Member, National Advisory Council, UNESCO Global Corporation for a Better World 
1989 Regional Council Member for Malaysia, SEAPAC “(INSEA) 

AWARDS and PRIZES 

1952 Sir Eric Shipton’s Merit Award. The Outward Bound Mountain School, Eskdale, UK 
1969 Special Prize for Painting, Salon Malaysia 
1969 Tokyo Biennale Prize for Painting 
1970 Guest Artist to Germany 
1970 Guest Artist to U.S.A. 
1972 A.M.N. (Ahli Mangku Negara) Malaysian Government Award for services to Art 
1985 Guest Art Educationist; Study Tour of Major Art Academies and Schools, U.S.A. 
1990 Australian Culture Award 
1990 Guest Artist to France; Study Tour of Major Art and Design Schools Paris 
1992 Minor Prize for Sculpture, Salon Malaysia 
1992 PJC (Pingat Jasa Chemerlang), Terengganu 
1994 K.M.N. (Kesastria Mangku Negara) Malaysian Government Award for services to Art 
1998 Anugerah Kesenian Perak. State’s Award for Art 

Exhibition History: PROJECTS 

1971 Ministry of Education EXPO PENDIDIKAN. Organizer 
1988 Shell Calendar Project. Indigenous Flowers of the Malaysian Rainforests 
1989 Largest Painting Project. UNESCO Global Co-operation for a Better World 
1994 Belum Rainforest Project for International Artists 
1994 Fibre Art Project, National Art Gallery 
1995 Tropical Wood Project. National Art Gallery 


EXHIBITIONS 

1963 -65 Malaysia Arts Council Art Exhibitions 
1965 Solo Art Exhibition, British Council, KL 
1966 Commonwealth Arts Festival, UK and Ireland 
1967 Malaysian Traveling Art Exhibition to Hamburg, Rome, St. Etienne, Paris 
1967 “Grup’ – 7 Painters, AIA Kuala Lumpur 
1967 Cathay Pacific Traveling Art exhibitions to Asian Capitals 
1969 “Salon Malaysia” National Art Gallery 
1969 Young Contemporaries Biennale, Tokyo 
1969 Malaysian Art Exhibition to Sao Paolo Biennale 
1972 ISPPA, Osaka, Japan 
1975 “Abstract Expressionists of the 60’s”. National Art Gallery 
1976 United World College Art Exhibition Singapore 
1965 Australian Waratah Spring Festival Group Exhibition 
1978 Indian Trienale 
1978 ASEAN Art Exhibition-Singapore Arts Festival 
1979 “Kraf 79” Exhibition, MIDLF Complex, KL 
1980 Singapore Arts Festival 
1984 “Two Malaysian Potters”, British Council Hall, KL 
1981 “Pameran Perdana” Malaysian Artists’ Association Exhibition, University of Malaya 
1982 “Ketara”, Malaysian Artists’ Association Exhibition to Penang 
1982 “Titian”, Malaysian Artists’ Exhibition to Singapore 
1984 Open Show, National Art Gallery, KL 
1982 Invitation Show, National Art Gallery, KL 
1982 Gallery 11 Invitation Show, KL 
1984 Open Show, National Art Gallery 
1984 Two Friends, Jinleng/Khalil, Australian High Commission 
1985 7 Malaysian Artists’ Exhibition, Museum of History, Taipei, Taiwan 
1985 Endau-Rompin Malaysian Heritage Art Exhibition, National Art Gallery, KL 
1985 ASPACAE International Art Exhibition, On Tai gallery, KL 
1986 Million Minute Peace Exhibition, KL 
1986 Contemporary British Malaysia Art Exhibition “Side-by-Side”, National Art Gallery 
1988 1st Asian Art Exhibition, Taichung, Taiwan 
1989 “Clay as an Expressive Medium”, National Art Gallery 
1990 “Art Fest Terengganu” – 11 Malaysian Artists 
1990 “Clay, Cloth and Wood” British/Malaysian Artists’ Exhibition, National Art Gallery 
1990 Malaysian Art Traveling Exhibition to 4 German Cities 
1991 5th Asian Art Exhibition, National Art gallery, KL 
1991 “Malaysian Art – Soal Identiti”, National Art Gallery KL 
1991/92 Salon Malaysia National Art Gallery 
1992 “Asean Selections” Singapore 
1992 “Earthscapes” Wan gallery, KL 
1992 “Clayworks”, Group Show. Isetan 
1993 “Bottle Icons” Ceramic Show, Taman Hillview 
1994 “Malaysian Experience”: Belum Rainforest Art Exhibition, National Art Gallery 
1996 Retrospective Exhibition, Jinleng, Art and Thoughts 1952 -1995, National Art Gallery 
1997 “Trapped”. Exhibition of Paintings, Drawings and Sculpture, Wan Gallery, KL 
1998 Pekan Seni Perak, Ipoh 
2000 “Transformations” 6 Malaysian Artists, Sculpture Square, Singapore 
2000 “Dance of the Apsaras” Exhibition of Sculpture, NN Gallery, KL 
2003 “Baptism of Fire”. Ordeal of Fire of Sita of the Ramayana, Sutra , KL 
2004 “The Moving Body”. Exhibition of drawings inspired by the Odissi and Bharata Natyam, Sutra, KL 
2006 “My Pride and Joy”. Exhibition of Ceremonial Textiles from the region. Jinleng’s collection. 
2007 “A Path and a Meeting” Rasa Leela paintings. SYMBOLS, 
House of the Arts, KL 
2007 “Ten Years On – A Review” Jinleng’s Mini Post-Retrospective Exhibition 1997 – 2007, NN Gallery, KL 
2008 “Stirring Odissi” International Oddisi Festival Art Exhibition, Petronas Art gallery 
2008 Perak Artists Art Exhibition, Galeri Chandan, KL 
2008 Life-Drawings from Chelsea Days 1958 – 62 Jinleng. NN Gallery,KL 

Collections: National Art Gallery 
Singapore Art Museum 
National University Singapore Art Museum 
University Science Penang Art Museum 
Art Museum Alor Star, Malaysia 
Herbert F. Johnson Art Museum, Cornel, Ithaca, US. 
Private collections 

Sunday, January 25, 2009

Nuansa Melayu Kembali Dalam Filem Pop

Ternyata kelmarin, Ahad, beberapa buah suratkhabar Melayu memperkatakan tentang filem dan finas, apalagi bila finas nak mengadakan program merakyatkan seni, eloklah. Tapi rasanya tempat tuh jauh sangat. Boleh tak kalau nak merakyatkan, adakan apa yang dinamakan outreach program yang diadakan ditempat lain seperti di ASWARA, Balai Seni, Matic atau Istana Budaya, lagipun itukan juga di bawak KPKKW, ringkasnya Ministry of Culture, tak bolehkah consolidatekan harta-harta kerajaan tu supaya boleh dipakai bersama. Begitu juga dengan badan2 seperti Finas, Filem Negara dan Lembaga Penapisan Filem, tak bolehkah disatukan supaya lebih komprehensif dan kompetitif. Tapi sebenarnya bukan ini yang hendak saya katakan disini.

Nuansa Melayu, yalah nampaknya ada beberapa filem yang sedang mencari sesuatu untuk bangsanya seperti Cik Siti Wan Kembang, Mek Ani Mak Yong, Bunian, Taming Sari, semuanya sedang menyoroti bangsa Melayu. Mungkin Wayang telah membuka ruang itu. Tapi janganlah pula menjadi seperti Puteri Gunung Ledang yang baru tuh dimana watak-watak yang digambarkan dicampuradukkan dari era dan zaman yang berlainan menjadi satu, hanya kerana nak menjadikan dia artistik. Kalau begitulah hendaknya, harus dikatakan sebuah filem khayalan atau fiksyen, bukanlah berasaskan sejarah kerana sejarahnya salah, iaitu tentang siapa Hang Tuah, Sultan Mahmud Melaka, Puteri Gunung Ledang, kerana Tun Mamat yang bertemu dengan Puteri Gunung Ledang yang sebenarnya seorang Puteri Bunian, khayalan dari seorang sultan yang berfikir yang tentu ada seorang puteri di atas gunung yang selaras pandangan dari jendela istananya. Maka itulah juga istananya tentunya tinggi kedudukannya, bertingkat-tingkat dan bilik baginda berada di tingkat atas sekali. Filem sedemikian rupa boleh menyesatkan pemikiran generasi muda yang tidak ramai tahu tentang sejarah. Seorang teman orang Jepun yang berkunjung ke Melaka bertanyakan saya, yang mana benar di antara fakta-fakta sejarah yang dibaca di Muzium Melaka dan PGL yang ditonton di filem dan tentunya filem yang bersifat popular lebih memberikan minat kepada genarasi sekaran, maka itulah ia menjadi penting. Filem itu ada tanggungjawabnya sendiri. Saya juga tertarik dengan tulisan Johan Jaafar di BM tentang filem-filem yang dibukin oleh kaum Yahudi di Amerika, tetapi bukankah, kebanyakan orang Yahudi sendiri sememangnya berada di dalam industri ini kerana sewaktu mereka berhijrah ke Amerika, mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang seni dan filem, jadi di sana mereka seolah-olah menjadi pelopor filem industri. Apalagi kalau di New York yang kebanyakan penduduknya terdiri dari orang Yahudi yang kemudiannya ada yang berpindah ke LA kerana perkembangan industri filem di sana. Ya betul ada banyak filem mereka yang menceritakan tentang Nazi dan WWII yang menganyanya mereka. Apakah itu satu perkara yang perlu difilemkan supaya dunia tidak mengulangi sejarah itu, bukan untuk kaum Yahudi saja, tetapi terhadap bangsa apapun. Kebetulan mereka berada di situ di industri filem. Maka untuk kamum Melayu yang kebetulan mendapat access kepada dana filem di Finas, kenapa tidak membikin filem-filem yang boleh membawa kita ke tahap pemikiran yang cerdik!

Saturday, January 3, 2009

Kesudahan Industri Perfileman Melayu, eh Malaysia!

Setiap ujung tahun, hampir kesemua surat khabar melakukan "stock take" tentang produk-produk yang telah dihasilkan, terutamanya di dalam bidang seni, samada industri filem, muzik ataupun teater, tetapi semuanya bersifat longgokan untuk memuatkannya di dalam ruang akhbar yang disediakan, kalau tidak editor tak lulus pulak, apalagi ruang untuk seni ni agak kurang,so kite terpaksa terima sajalah, yalah kalau bercerita tentang seni yang berotak ni kurang mendapat perhatian pembaca pulak. Ini sebenarnya apa yang dipanggil "Dumbing the Audience", memperbodohkan penonton atau menganggap penonton Malaysia atau pembaca suratkhabar bodoh, walaupun kerajaan sendiri telah ada 20 universiti umum dan 20 atau lebih universiti swasta. Seperti filem, kita selalu nak mementingkan produk yang bakal dijual, kita tidak mengambil langkah untuk mencerdikkan penonton, dah kata penonton bodoh. This is really a viscious cycle. Ada pulak intelek filem kononnya, yang mengatakan pelajar filem tak nak tengok filem, hah salah siapa, kalau cakap tak serupa bikin, masa mengajar bedegang-degang, tapi bila buat filem hanjing, tapi tak dengar komen. Lagipun selalu mengikut kata hati, senang dengan kata orang, tak nak buat pertimbangan sendiri yang seharusnya rasional. Itulah sebabnya banyak orang work with orang-orang yang boleh dipercayai atau yang menyebelahinya. Dalam beberapa kenyataan menyatakan yang ramai orang Malaysia cerdik pandai yang tak nak filem Malaysia, suka tengok filem Hollywood, atau import walaupun filem itu hancus. Sebenarnya banyak orang lupa yang filem itu adalah salah satu dari produk konsumerism, ianya adalah sebuah produk dari popular culture. Setiap dari kita yang mangaku menolak globalisation dan kapitalisma menggunakan produk2, jadi susahlah nak cerita. Jadi seperti membeli baju, ada baju untuk kerja, ada baju untuk bersukan, ada baju untuk majlis keramaian formal, ada yang casual, dan bermacam-macam, jadi samalah dengan filem, apalagi bila kita mempunyai perasaan yang berbeza-beza pada hari dan waktu yang berbeza. Filem seperti lagu juga dikatakan dipilih atas pilihan setiap pengguna. maka ada hari yang kita menonton filem yang paling bodoh, dan ada hari kita menonton filem patriotik dsb, Hollywood dibentuk seperti sebuah supermarket, apalagi kalau di Amerika, it's more like Hypermarket! Jadi sebelum melawan arus pasaran dunia, kita harus melihat di mana kita, dan untuk pasaran Malaysia juga kita harus mula melihat kajian demografik atau segmentation pasaran kita!